
Tak terasa sudah 4 tahun aku bersamamu. Bahkan sudah 19 bulan kita menikah. Anak kita pun sudah masuk usia 9 bulan. Tak terasa… Semuanya tak terasa…
Kemarin aku sempat makan siang dengan temanku. Dia juga baru saja menikah. dia bercerita padaku tentang kesulitan yang dia hadapi sebagai pasangan suami istri yang baru menikah. Banyak hal yang dia tidak ketahui sebelumnya tentang sifat suaminya, yang baru ia ketahui sekarang.
Mungkin aku lebih beruntung dibandingkan dia. Karena sebelum menikah, aku sudah mengenalmu terlebih dahulu. Dan sudah mendalami sifat-sifatmu. Bahkan, hampiiiir seluruh sifatmu. Karena (jelas) sekali kau tidak bisa menutupi warna hatimu sendiri. Terkadang hal tersebut sangat menguntungkan bagiku, karena tak perlu menebak apa isi hatimu. Hal itu sudah tergambar jelas di wajahmu. Yaaaa.. Di wajahmu… Hoho…
Temanku juga bercerita, dia mempunyai teman yang sudah menikah hampir 12 tahun dan sampai hari ini masih juga bertengkar mengenai hal sepele dengan suaminya. Bahkan sering mereka mengatakan ingin berpisah mulai dari tahun-tahun pertama mereka menikah. Ternyata, sampai saat ini mereka masih bersama. Dan tentu saja aku senang mendengarnya…
Aku tahu kau sabar padaku. Meladeni semua sifatku yang terus terang sangat mudah berubah. Baru 5 menit aku tertawa denganmu, 5 menit kemudian aku sudah marah padamu dan tidak ingin berbicara bahkan melihat wajahmu.
Aku tahu kau sayang padaku. Selalu membuatku senang padahal tubuhmu sudah terasa luluh lantak menerjang lalu lintas ibu kota yang makin hari makin parah kita rasakan.
Aku tahu kau peduli padaku. Dengan selalu menanyakan keadaanku, hari-hariku, pekerjaanku, masalahku bahkan keinginanku yang sangat banyak dan (kadang atau sering yaa?) tidak masuk akal bagimu. Haha….
Kuharap, Allah SWT selalu memberikan petunjuk, kesabaran, ketenangan dan kebahagian pada keluarga kecil kita yang sudah beranjak menjadi keluarga balita. Amiinn…
——
Kukutip lirik lagu yang suka kau nyanyikan saat kita berkaraoke.
Saat aku lanjut usia
Sheila on 7
Saat aku lanjut usia
Saat ragaku terasa tua
Tetaplah kau s’lalu di sini
Menemani, aku bernyanyi
Saat rambutmu mulai rontok
Yakinlah ku tetap setia
Memijit pundakmu,
hingga kau tertidur pulas
Genggam tanganku saat tubuhku terasa linu
Ku peluk erat tubuhmu saat dingin menyerangmu
Kita lawan bersama, dingin dan panas dunia
Saat kaki t’lah lemah, kita saling menopang
Hingga nanti di suatu pagi, salah satu dari kita mati
Sampai jumpa, dikehidupan yang lain
Saat perutku mulai buncit
Yakinlah ku tetap yang terseksi, wuhu…
Dan tetaplah kau s’lalu menanti
Nyanyianku, dimalam hari
(tersenyum mengingat bla.. bla.. bla.. semalam).